05.20

5 Tipe Logo dan Mana yang Paling Tepat untuk Brand Kita.

Sebagian orang masih ada yang menganggap pengertian logo terbatas pada gambar atau simbol yang disandingkan dengan nama perusahaan atau produk. Padahal logo tidak melulu berbentuk simbol. Sebagai contoh, banyak produk atau perusahaan yang memakai teks saja sebagai logonya. Logo bisa ditampilkan dalam berbagai bentuk baik itu gambar, simbol, teks, atau inisial.

Berikut tipe-tipe logo yang umumnya dipakai dan alasan penggunaannya. Pengelompokan ini akan mempermudah kita untuk menentukan tipe logo yang akan kita gunakan dengan tepat untuk brand kita.

Wordmark (atau Logotypes/Teks).

Berdasarkan data Forbes, 37% dari 100 brand paling kuat di dunia menggunakan wordmark alias teks. Data ini menunjukkan bahwa banyak sekali logo yang tidak melulu menggunakan gambar atau simbol, mereka hanya menggunakan nama perusahaan atau produknya.

Logo-logo Wordmark: Google, Coca Cola, Disney

Logo tipe wordmark banyak dipakai karena beberapa alasan. Salah satunya adalah mengarahkan fokus orang pada nama brand tersebut. Yakni dengan cara menampilkan nama brand simbol atau elemen lain sebagai pendukung. Bagi orang yang tidak mengenal logo ini sebelumnya pun akan langsung tahu nama dari brand ini.

Ketika akan membuat bisnis baru, tipe logo ini termasuk pilihan yang tepat karena kita dapat membuat orang tahu akan nama brand kita dengan jelas. Di era digital ini, banyak sekali brand-brand yang hadir dan menggunakan wordmark sebagai logo mereka. Selain Google atau Yahoo!, kita perhatikan saja contohnya seperti Pinterest, versi awal logo Airbnb, SpaceX dan lain-lain.

Logo Logo Wordmark: Pinterest, Airbnb, SpaceX

Tipe logo ini juga identik dengan kesan minimal dan elegan. Karena itu banyak produk-produk fashion maupun kecantikan yang menggunakan wordmark. Contohnya Bvlgari, Prada, Calvin Klein, Victoria Beckham, Hugo Boss dan Dior. Meskipun hanya berbasis teks, kreatifitas juga dapat diterapkan dengan maksimal seperti pada logo unik milik brand lokal Brodo. Beberapa brand lokal lainnya di bidang fashion yang menggunakan wordmark antara lain Minimal, Bagteria dan The Executive.

Bvlgari, Prada, CalvinKlein, Victoria Beckham, Hugo Boss, Dior etc

Contoh-contoh di atas dapat kita gunakan sebagai pertimbangan untuk menggunakan wordmark sebagai logo dari brand yang akan kita buat. Akan tetapi, karena logo bertipe wordmark berbentuk teks, maka pemilihan font menjadi sangat penting. Jenis font yang digunakan menentukan image dari brand tersebut. Meskipun hanya berupa teks, kita tetap perlu menjadikannya berbeda dengan yang lainnya. Kita dapat pula memodifikasi bagian dari karakter menjadi lebih artistik atau unik sehingga membedakan logo kita dengan logo lainnya.

Lettermark  (atau Monogram/Inisial).

Hampir sama dengan wordmark, hanya saja tipe logo ini terdiri dari inisial atau perpaduan huruf. Sementara wordmark terdiri dari satu atau lebih kata utuh. Tipe ini biasanya diaplikasikan dengan memakai inisial dari nama perusahaan atau badan. Selain agar lebih singkat dan mudah diingat, alasan dan pertimbangan memakai logo ini hampir sama dengan logo bertipe wordmark.

Logo BPI badan perfilman Indonesia, Logo NASA (The National Aeronautics and Space Administration) dan Logo IBM (International Business Machines Corporation)

Misalkan pada logo di atas, tentu terkesan lebih praktis dan mudah menampilkan inisial BPI daripada harus memajang teks panjang yang berbunyi Badan Perfilman Indonesia. Demikian pula pada NASA yang merupakan singkatan dari National Aeronautics and Space Administration dan IBM dari nama International Business Machines.

Tipe ini juga efektif digunakan sebagai logo yang berasal dari singkatan (inisial) nama orang ataupun kombinasi isial nama pasangan (biasanya pada logo mempelai pernikahan).

Pictorial Mark (atau Symbol).

Sebuah simbol (ikon) atau gambar sederhana lebih efektif dari sekedar teks. Hal ini bisa dilihat dari betapa kita dengan mudah memahami penanda di jalan raya yang menunjukkan arah kanan, jembatan, perempatan atau tanda tempat seperti rumah sakit, restoran. Juga tanda dalam gedung seperti dilarang merokok, toilet atau ikon yang menunjuk arah keluar (exit).

Efektifitas ini juga bagus digunakan untuk merepresentasikan brand. Akan tetapi pemilihan gambar atau simbol perlu diperhatikan saat menerapkannya. Karena gambar atau simbol yang dipilih berkaitan erat dengan arti dari brand tersebut. Sebagai contoh, Twitter menggunakan logo burung yang aktif untuk merelasikan logo dengan karakter produknya yakni platform cuit-cuitan pengguna. Juga pada logo WWF (World Wildlife Foundation) yang menggunakan karakter panda untuk menunjukkan perhatian mereka pada apa yang mereka kerjakan. Pemilihan panda adalah tindakan sangat bagus karena dapat memberi ikatan emosi lebih dalam dari ilustrasi panda yang imut tetapi sedang terancam kepunahan.

Tetapi penggunaan pictorial mark tidak selalu bagus bagi semua brand. Dan cenderung sulit bagi brand yang belum lama dibuat. Bila kita perhatikan, brand yang menggunakan logo bertipe pictorial adalah brand-brand yang telah memiliki nama besar. Juga biasanya telah melalui proses panjang untuk untuk memutuskan menggunakan pictoral mark. Sebagai contoh WWF, Apple, Target, Audi, Mercedes, Olympic Games, Twitter, Maspion dan Google Chrome.

Logo-logo Pictorial Mark: WWF, Target, Apple, Audi, Mercedes, Olympic Games, Twitter, Maspion, Google Chrome

Bagi brand yang belum cukup terkenal atau baru permulaan akan sulit untuk mendapatkan pengakuan bila hanya menggunakan simbol (tanpa disertai pendukung lain seperti lettermark atau wordmark.

***

Sebagai tambahan, ada yang mengelompokkan sebagian pictorial mark ke dalam tipe logo abstrak (abstract mark). Pada dasarnya logo abstrak hampir sama dengan simbol. Kita bisa saja mengelompokkannya ke dalam pictorial mark. Perbedaannya terletak pada jenis gambar atau simbol yang dipakai. Bila pictorial mark menggunakan gambar yang menunjukkan korelasi yang nyata meskipun terkadang perlu penelusuran lebih (seperti gambar buah apel untuk Apple, burung untuk Twitter, papan target menembak/memanah untuk Target), logo abstrak bisa jadi tidak memiliki kaitan apapun. Atau tidak bisa dilihat korelasinya secara jelas. Misalnya terlihat pada logo Pepsi. Kita tidak bisa menjelaskan gambar apa yang dimaksud pada logo tersebut.

Logo Abstrak Pepsi dan Logo Maskot Mr. Peanut

Selain logo abstrak, ada juga yang mengelompokkan logo berbentuk maskot seperti pada logo Mr. Peanut sebagai mascot mark. Karena menggunakan maskotnya sebagai logo. Akan tetapi saya tidak menganggap kedua tipe logo ini (logo abstrak dan logo maskot) memiliki perbedaan signifikan dengan simbol. Dalam berbagai kasus logo abstrak dan logo maskot masuk ke dalam kriteria pictorial mark.

Logo Kombinasi.

Logo kombinasi antara lettermark, wordmark dan pictorial mark dan digunakan bersama dalam satu bagian tak terpisahkan. Tipe ini paling banyak kita temui. Salah satu alasannya karena dua elemen tersebut saling menguatkan dalam proses branding. Orang yang melihat akan secara spontan dan mengingat nama brand tersebut lalu mengaitkan dengan simbolnya.

Logo Kombinasi: Burger King, NBA, Premier League, Matahari, Lea, Semen Indonesia, Dua Kelinci, Buccheri, Good News from Indonesia

Tipe ini adalah pilihan paling tepat untuk brand yang baru diluncukan, terlebih bila di kemudian hari menginginkan menjadi brand yang terkenal akan simbolnya. Dengan tipe ini, bukan tidak mungkin sebuah logo akan menjadi cukup ikonik di masa depan sehingga cukup menggunakan pictorial mark. Seperti Apple dan Target.

Emblem atau Crest.

Sekilas emblem adalah jenis logo yang penampilannya detail, memakai banyak elemen dan cenderung tidak sederhana. Elemen-elemen penyusunnya termasuk nama brand biasanya dibingkai dalam beberapa jenis bentuk seperti segilima, lingkaran, oval, perisai atau bentuk lain yang lebih kompleks.

Logo ini terlihat klasik dan tradisional akan tetapi sering menjadi pilihan utama. Logo tipe ini banyak dipakai instansi pemerintahan, sekolah dan universitas, klub olahraga dan versi awal logo perusahaan otomotif. Starbuck dan J.Co juga menggunakan tipe logo ini.

Logo Emblem Style: Liverpool, Persib, Universitas Ciputra, TNI, J.CO dan Jawa Timur

Di Indonesia sendiri, implementasi logo ini boleh saya bilang paling banyak dipakai. Hal ini tidak lepas karena komposisinya yang terdiri berbagai elemen. Sehingga gampang diimplementasikan dan akan lebih mudah membedakannya dengan yang lainnya. Seperti logo kabupaten misalnya, setiap kabupaten memiliki ciri yang ingin ditonjolkan. Ciri tersebut dapat dengan bebas kita tempatkan dalam logo karena tipe logo ini tidak membatasi jumlah elemen yang menyusunnya. Perbedaan ini sangat kontras dibandingkan dengan pictorial mark maupun letter/wordmark.

Tipe ini juga sangat cocok terpasang pada seragam.

 

***

Itulah tipe-tipe logo berdasarkan elemen yang digunakan. Semoga bermanfaat dan dapat menjadi bahan pertimbangan untuk memilih jenis logo untuk instansi atau produk yang akan kita buat, baik berupa lettermark, wordmark, pictorial mark, kombinasi maupun dalam bentuk emblem.

05.16

Tren Redesain Logo yang Dilakukan Brand-brand Besar Saat Ini dan Tips-tips Yang Bisa Kita Terapkan.

Redesain logo sampai sekarang silih berganti dilakukan oleh banyak brand. Mengalir deras dan kebanyakan mengarah pada tren flat yang berkembang belakangan ini. Sebut saja Google, MasterCard, Lenovo, Verizon, atau Audi, dll.

Banyak brand besar memakai gaya flat maupun minimalis karena kemudahannya untuk diaplikasikan ke berbagai media. Gaya desain flat dan minimalis juga dapat memunculkan kesan simple dan modern. Hal ini juga dipengaruhi tren desain yang berkembang lima tahun terakhir.

Setelah membaca ulasan dari The Company Folder, saya mengambil beberapa tips redesain yang bisa dipelajari dari perubahan logo brand-brand besar ini. Dengan beberapa perubahan yang saya anggap perlu.

Pada proses meredesain sebuah logo, poin penting yang tidak boleh kita lupa adalah memahami dengan baik tujuan dan sasaran dari redesain tersebut sehingga hasil yang didapatkan sesuai yang ingin dicapai. Salah satu caranya adalah dengan memperhatikan poin-poin berikut, menerapkan salah satu atau mengkombinasikannya.

Ambil bagian paling penting, paling ikonik atau yang menjadi inti dari sebuah logo dan hilangkan bagian lain yang tidak perlu.

Marriott Logo Redesign

Huruf M dalam logo Marriott adalah bagian yang paling unik, khusus dan paling mudah dikenali.

Contoh lain adalah perubahan logo Target pada tahun 2006. Meskipun dilakukan jauh sebelum ada tren brand-brand besar merubah logonya menjadi minimalis, Target telah melakukannya lebih dahulu.

Perhatikan logo sebelumnya sebagai inspirasi yang mungkin perlu dipertahankan, apakah untuk mencapai tujuan redesain ini perlu merombak semua logo atau justru hanya perlu melakukan sedikit perubahan saja. Sesuaikan tren, tetapi jangan lupakan tradisi.

Star Bucks Logo Redesign

Buat menjadi simple. Banyak sekali contoh dari redesain yang dilakukan brand-brand besar akhir-akhir ini untuk membuat logo mereka tampak lebih simple. Logo yang simple berarti lebih mudah diaplikasikan ke berbagai macam media.

MasterCard Logo Redesign

Fokuslah pada warna yang menjadi paling penting dan paling merepresentasikan brand lalu kuatkan dengan menggunakannya sebagai warna utama.

Pizza Hut Logo Redesign

Buat agar logo menjadi lebih mudah dibaca, khususnya logo yang yang berupa wordmark. Meskipun kita memerlukan jenis font yang unik dan berbeda dengan lainnya, tetapi jangan lupakan prinsip dasar agar wordmark dalam logo mudah dibaca.

Mail Chimp Logo Redesign

Selain tips-tips di atas, hal yang perlu diingat adalah bahwa logo hanyalah salah satu perangkat dari brand, dan bukan satu-satunya. Karena itu sangat penting untuk mempelajari value brand yang telah terbentuk dan tujuan/visi yang ingin dicapai brand tersebut. Hal ini juga agar kita tidak kehilangan nilai-nilai brand yang sudah ada. Respect brand’s heritage.

Terkadang dalam meredesain sebuah logo, yang dibutuhkan dari redesain hanyalah agar logo baru tersebut dapat “memperbaiki kekurangan” dari logo yang sudah ada.

Facebook Logo Redesign

Seperti perubahan logo Facebook ini, apakah kamu menyadari perubahannya?

Semoga tips ini dapat membantu. Menurutmu, brand apa lagi yang perlu melakukan redesain agar lebih sesuai di era sekarang ini?